Peran Orang Tua terhadap Perkembangan Anak di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG 

    Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat, akan tetapi mempunyai pengaruh yang besar bagi bangsa dan Negara. Dari keluargalah akan terlahir generasi penerus yang akan menentukan nasib bangsa. Apabila keluarga atau orang tua dapat menjalankan fungsi dengan baik, maka dimungkinkan tumbuh generasi yang berkalitas dan dapat di andalkan yang dapat menjadi pilar-pilar kemajuan bangsa. Sebaliknya bila keluarga tidak dapat berfungsi dengan baik, bukan tidak mungkin akan menghasilkan generasi-generasi yang bermasalah yang dapat menjadi beban masyarakat, fungsi orang tua sangat ditentukan oleh proses-proses yang berlangsung didalamnya.

    Wujud dari keluarga dapat berupa keluarga inti, yang terdiri dari bapak-ibu, dan anak, juga dapat berupa keluarga besar (extended) yang terdiri dari bapak-ibu, anak, kakek, nenek, maupun anggota keluarga lainnya. Keluarga, dalam hal ini lebih diarahkan kepada orang tua, juga memiliki peran penting di dalam pendidikan anak, termasuk keterlibatannya di dalam lembaga pendidikan.

    Peran orang tua, yang merupakan keluarga dan pendidik utama bagi anak, sangat diperlukan dalam perkembangan anak di lembaga pendidikan anak usia dini. Dalam makalah ini, penyaji akan membahas masalah tersebut sehingga pada akhirnya pembaca dapat mengetahui tentang peranan orang tua di lembaga PAUD.

  2. RUMUSAN MASALAH 

    Adapun masalah yang terkait dalam penulisan makalah ini adalah:

    1. Apa yang dimaksud dengan keluaraga khususnya orang tua?
    2. Apa yang dimaksud dengan lembaga pendidikan anak usia dini?
    3. Mengapa peranan orang tua sangat diperlukan dalam perkembangan anak di lembaga pendidikan anak usia dini?
  3. TUJUAN  

    Adapaun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:

    1. Memberikan gambaran tentang keluarga dan orang tua.
    2. Memberikan gambaran tentang lembaga pendidikan anak usia dini.
    3. Memberikan gambaran tentang peranan orang tua dalam perkembangan anak di lembaga pendidikan anak usia dini.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Keluarga dan Orang Tua

Keluarga merupakan pondasi awal untuk membentuk karakter manusia melalui pendidikan ayang ada di dalam keluarga itu sendiri. Keluarga bahagia dan sejahtera adalah keluarga yang selalu didambakan setiap individu yang ada. Keluarga merupakan kumpulan sekelompok manusia yang memilki hubungan tertentu. Menurut Geldard dan Geldard, “secara umum keluarga terdiri dari anak-anak, remaja, orang tua, dan kakek-nenek. Tetapi, keluarga juga dapat mencangkup bibi, paman, sepupu, keponakan laki-laki dan perempuan” (2011: 77).

Lestari berpendapat bahwa “keluarga merupakan warisan umat manusia yang terus dipertahankan keberadaannya dan tidak lekang oleh perubahan zaman” (2012: 1). Masih didalam buku yang sama, “ keluarga merupakan kelompok sosial yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerjasama ekonomi, dan terjadi proses reproduksi” (Murdock dalam Lestari, 2012: 3). Menurut Ki Hajar Dewantara dalam Latif dkk, “keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama” (2013: 255).

Di dalam sebuah artikel, Mawardi dalam Irene (1990), menyatakan ada tiga faktor peranan orang tua yang bertanggung jawab dalam pengasuhan yaitu pengawasan yang membimbing, pemberian contoh yang baik, pendekatan pribadi (Nugraheni dan Fakhrudin, 2014).  Mawardi menyatakan bahwa interaksi yang terjalin antara orang tua dan sekolah meliputi dua kategori yaitu parental involvement dan participation.

Begitu pula yang dikemukanan Davis bahwa parental involment adalah keterlibatan orang tua pada jenis aktivitas yang ditinjau untuk mendukung program-program sekolah, sedangkan participation adalah orang tua berpengaruh dalam pengambilan keputusan pada hal-hal yang sangat penting di sekolah, seperti penentuan program sekolah dan lain-lain (Ratnadewi, 2015).

Hasbullah berpendapat bahwa, orang tua adalah mereka yang mempunyai peranan pertama dan utama bagi anak-anaknya selama anak belum dewasa dan mampu berdiri sendiri. Karena itulah, orang tua harus memberikan keteladanan yang baik untuk membawa anak pada kedewasaan karena anak suka mengimitasi kepada orang tua yang ada di sekitarnya (2009: 115).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan unit terkecil dalam pendidikan anak yang tinggal di satu atap. Keluarga dalam hal ini menyangkut orang tua adalah manusia dewasa yang bertanggung jawab serta melindungi anak (manusia kecil yang belum dewasa), sehingga anak merasa aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang.

 

  1. Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tertulis pada pasal 28 ayat 1 yang berbunyi “Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar”. Selain itu, masih pada Undang-undang yang sama pasal 1 ayat 14 dikatakan bahwa, “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut” (Depdiknas, 2004: 4).

Menurut Suyadi, (2010: 8-9), pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan keniscayaan. Alasannya, perkembangan otak pada anak usia dini (0-6 tahun) mengalami percepatan hingga 80% dari keseluruhan otak orang dewasa. Hal ini menunjukan bahwa seluruh potensi dan kecerdasan serta dasar-dasar perilaku seseorang telah mulai terbentuk pada usia dini. Atas dasar ini, disimpulkan bahwa untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak dini, yaitu melalui PAUD.

Merujuk pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikkan terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, yang keseluruhannya merupakan kesatuan yang sistematis. Artinya, pendidikan harus dimulai dari usia dini, yaitu pendidikan anak usia dini (PAUD).

Suyadi juga berpendapat terdapat 3 landasan dalam pendidikan anak usia dini, yaitu :

  • Landasan Yuridis
  1. Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2, yang menyatakan “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
  2. UU No. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang perlindungan Anak. “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.”
  3. UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidkan Nasional, Bab 1, pasal 1, butir 14, yang menyatakan:

“Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memilki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.”

  • Landasan Filosofis

Bangsa Indonesia yang menganut filsafah pancasila berkeyakinan bahwa pementukan manusia Pancasilais menjadi oreientasi tujuan pendidikan, yaitu menjadikan manusia Indonesia seutuhnya Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhineka Tunggall Ika, yang maknanya berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai makhluk tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun.

Anak sebagai makhluk individu dan sosial, sangat berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanya. Dengan pendidikan yang diberikan, diharapakan anak dapat tumbuh cerdas sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang berkualitas.

  • Landasan Keilmuan

Landasan keilmuan yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dini adalah penemuan para ahli tentang tumbuh-kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak dan kecerdasan. Menurut Wittrock, dalam Suyadi menyatakan sebagaimana diikuti tim pengembang kurikulum PAUD, ada tiga wilayah pengembangan otak yang mengalami peningkatan pesat, yaitu pertumbuhan serabut dendrit, kompleksitas hubungan sinapsis, dan pembagian sel saraf. Ketiga wilayah otak tersebut sangat penting untuk dikembangkan sejak usia dini,

Hal senada juga dikemukakan oleh Teyler. Ia menyatakan bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100 milyar hingga 200 milyar sel saraf. Setiap sel saraf siap berkembang sampai taraf tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat stimulasi yang sesuai dari lingkungan.

Hal yang sama juga dikemukakan Jean Piaget (1972). Ia menyatakan, “Anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat. Tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, dan ia harus menemukanya sendiri.”

Menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang termuat dalam Sujiono (2012: 16) disebutkan bahwa, “setiap penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini memiliki ciri khusus sesuai dengan jalur pendidikan dimana lembaga tersebut berada. Hal tersebut diuraikan kembali di dalam Undang-undang RI Nomor 2 Tahun 2003 pada Bab VI Pasal 28 yang menyatakan bahwa:

  • Pendidikan Anak Usia Dini diselelnggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
  • Pendidikan Anak Usia Dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal, dan informal.
  • PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat.
  • PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat.
  • PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh pendidikan.

Dari pernyataan di atas pada dasarnya PAUD memiliki peran untuk menjadi dasar keikutsertaan anak dalam mengikuti pendidikan ditingkat selanjutnya. Itulah sebabnya, PAUD dapat mengembangkan potensi anak secara menyeluruh. Sujiono (2012: 16) berpendapat, bahwa PAUD berada jalur Pendidikan Luar Sekolah. PAUD merupakan bagian dari pendidikan nonformal dan yang berkaitan dengan peran PAUD, yaitu PAUD mendasari keikutsertaan individu dalam mengikuti pendidikan selanjutnya. PAUD dapat mengembangakan potensi anak secara komprehensif. Hal tersebutlah diharapkan dapat mempertegas dan merancang program PAUD yang benar-benar potensial dalam pembentukan sumber daya manusia pada umumnya.

Saat ini, kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya pendidikan untuk anak usia dini kini semakin baik. Berbagai bentuk lembaga PAUD mulai bermunculan dengan segala kekhasannya, seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Posyandu, Kelompok Bermain (Play Group), Tempat Penitipan Anak (TPA), dan di jenjang pendidikan formal ada Taman Kanak-kanak (TK). Di dalam bukunya, Sujiono (2012: 22) berpendapat bahwa, terdapat berbagai lembaga PAUD yang telah dikenal masyarakan dan memberikan layanan pendidikan bagi anak usia lahir sampai 6 tahun baik formal ataupun non formal, antara lain:

  • Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Atfhal

Taman Kanak-kanak atau biasa dikenal dengan TK dan Raudhatul Atfhfal atau RA  adalah suatu bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur pendidikan formal. TK memberikan program pendidikan untuk anak usia 4 tahun sampai 6 tahun.  Untuk kelompok belajar dibagi berdasarakn kelompok yaitu kelompok A untuk anak usia 4-5 tahun dan kelompok B untuk anak usia 5-6 tahun.

  • Kelompok Bermain

Kelompok Bermain atau biasa disebut KB adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan untuk anak usia 2 – 4 tahun. Tujuan dari penyelenggaraan KB adalah menyediakan pelayanan Pendidikan, Gizi dan Kesehatan anak, mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan potensinya dengan cara bermain.

  • Taman Penitipan Anak

Taman Penitipan Anak atau TPA adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan dan kesejahteraan untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun. TPA juga dapat disebut sebagai wahana pendidikan dan pembinaan kesejahteraan anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu salam orang tua anak berhalangan atau tidak memiliki waktu untuk mengasuh anaknya.

  • POS PAUD

POS PAUD adalah sebuah pelayanan masyarakat yang ditujukan untuk anak usia 0-6 tahun yang tidak mendapatkan layanan di Lembaga PAUD.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan dan kesejahteraan, baik secara formal, non formal, dan informal, untuk Anak Usia Dini yang bertujuan untuk mengembangkan masa emas anak atau golden age (0-6 tahun) guna mempersiapkan anak ke jenjang pendidikan selanjutnya.

  1. Peran Orang Tua dalam Perkembangan Anak di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini tidak lepas dari peran orang tua atau keluarga. Hal itu dikarenakan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama dalam pertumbuhan manusia, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan dan berkembang menjadi dewasa. Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi pekerti, dan kepribadian tiap-tiap manusia. Bagi orang tua, anak merupakan harapan di masa mendatang.  Menurut Nugraheni dan Fakhruddin didalam artikelnya disebutkan bahwa Peran orang tua dan masyarakat dalam PAUD sangat besar. Keberhasilan pelaksanaan PAUD salah satunya dipengaruhi oleh partisipasi orang tua dan masyarakat. Pelaksanaan PAUD akan berjalan dengan baik apabila orang tua dan masyarakat memahami pentingnya pendidikan untuk anak usia dini.

Menurut Ahmadi dan sholeh (2005:135) berpendapat bahwa “sebagai orang tua hendaknya kita berusaha, agar apa yang merupakan kewajiban anak-anak kita dan tuntutan kita sebagai orang tua mereka kenal dan laksanakan, sesuai dengan kemampuan mereka dan kemampuan kita sebagai orang tua. Jika hal ini dapat kita kerjakan, saya kira konflik dan frustrasi pada kedua belah pihak dan dihindarkan, atau paling sedikit diselesaikan”.

GBHN dalam Hasbullah (2009:89) dinyatakan bahwa “pendidikan nasional dikembangkan secara terpadu dan serasi baik antar berbagai jalur, jenis dan jenjang pendidikan, maupun antara sektor pendidikan dengan sektor pembangunan lainnya serta antar daerah. Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

Menurut Hasbullah (2009:90) dinyatakan bahwa orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya. Begitu juga orang tua harus menunjukan kerjasamanya dalam mengarahkan cara anak belajar dirumah, membuat pekerjaan rumahnya tidak disita waktu anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi anak dan membimbing anak dalam belajar. Ada beberapa contoh sebagai berikut :

  1. Adanya kunjungan kerumah anak didik.

Pelaksanaan kunjuan kerumah anak didik ini berdampak sangat positif diantaranya:

  1. Kunjungan melahirkan perasaan pada anak didik bahwa sekolahnya selalu memperhatikan dan mengawasinya.
  2. Pendidik berkesempatan untuk memberikan penerangan kepada orang tua anak didik tentang pendidkan yang baik.
  3. Hubungan anatara orang tua dan sekolah akan bertambah erat.
  4. Di undangnya orang tua ke sekolah.

Jika ada kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah yang memungkinkan untuk dihadiri oleh orang tua maka akan positif sekali artinya bila orang tua diundang untuk datang kesekolah.

  1. Case Conference.

Case conference merupakan rapat atau konferensi tentang kasus. Biasanya digunakan dalam bimbingan konseling, peserta konferensi ialah orang yang mau betul-betul membicarakan masalah anak didik terbuka dan suka rela.

  1. Badan pembantu sekolah.

Badan pembantu sekolah ialah organisasi orang tua, murid, atau wali murid dan guru. Organisasi yang dimaksud merupakan kerja sama yang paling terorganisasi antara sekolah atau guru dan orang tua murid.

  1. Mengadakan surat menyurat antara sekolah dan keluarga.

Surat menyurat ini diperlukan terutama pada waktu-waktu yang sangat di perlukan bagi perbaikan pendidikan anak didik, seperti surat peringatan kepada guru kepada orang tua jika anaknya perlu lebih giat, sering membolos, sering berbuat keributan dan lain sebagainya.

  1. Adanya daftar nilai atau rapot.

Rapot biasanya diberikan setiap catur wulan kepada para murid ini dapat dipakai sebagai penghubung antara sekolah dan orang tua. Sekolah dapat memberikan surat peringatan atau meminta bantuan orang tua bila hasil rapot anaknya kurang baik atau sebagainya.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa orang tua sangatlah berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak , karena orang tua merupakan pendidik utama ketika anak dirumah sehingga membantu proses pembentukan karakter anak mereka.

Oleh sebab itulah, orang tua diharapkan ikut serta dan berperan aktif dalam kegiatan anak di Lembaga PAUD, sehingga ketika anak berada di rumah, orang tua dapat mengarakan anaknya sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Dengan adanya peran orang tua di Lembaga PAUD, orang tua juga dapat mengerti bagaimana proses tumbuh kembang anak mereka yang akan menambah pengetahuan orang tua tentang cara mendidik anak mereka sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.

 

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULANDari pemaparan materi di atas, dapat disimpulkan bahwa:
    1. Keluarga merupakan unit terkecil dalam pendidikan anak yang tinggal di satu atap. Keluarga dalam hal ini menyangkut orang tua adalah manusia dewasa yang bertanggung jawab serta melindungi anak (manusia kecil yang belum dewasa), sehingga anak merasa aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang.
    2. Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan dan kesejahteraan, baik secara formal, non formal, dan informal, untuk Anak Usia Dini yang bertujuan untuk mengembangkan masa emas anak atau golden age (0-6 tahun) guna mempersiapkan anak ke jenjang pendidikan selanjutnya.
    3. Dengan adanya peran orang tua di Lembaga PAUD, orang tua dapat mengerti bagaimana proses tumbuh kembang anak mereka yang akan menambah pengetahuan orang tua tentang cara mendidik anak mereka sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
  2. SARAN
    1. Untuk Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

    Diharapakan agar mau melibatkan orang tua dalma proses pembelajar anak sehingga orang tua dapat mengetahui dan mengerti bagaimana anak usia dini belajar atau memperoleh pengetahuan.

    1. Untuk Orang Tua

    Diharapkan orang tua dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran anak, agar orang tua juga dapat menerapkan pendidikan yang sesuai dengan tumbuh kembang anak di rumah atau di luar Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pelaksanaannya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Geldard, Kathryn dan David Geldard. 2011. Konseling Keluarga: Membangun relasi untuk saling memandirikan antar anggota keluarga. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Hasbullah. 2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Latif, Mukhtar dkk. 2013. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini: Teori dan aplikasinya. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Sujiono, Yuliani Nurani. 2012. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.

Ratnadewi. Peran Orang Tua pada Terapi Biomedis untuk Anak Autis. http://download.jurnal.10504137.pdf. diakses pada tanggal 26 september 2015, pukul 10.00.wib.

Nugraheni, Shohaivaf dan Fakhrudin. Persepsi dan Partisipasi Orang Tua Terhadap Lembaga PAUD. http://download.artikel.3739-7663-1-pdf/ diakses pada tanggal 26 september 2015, pukul 10.02.wib.

 

 

Membangun Bangsa yang Berkarakter melalui Sastra dan Bahasa

“Penerapan Karakter Budi Pekerti melalui Bahasa Dongeng’’

Oleh: Desvi Wahyuni

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era global saat ini patut dicermati. Sebab kemajuan tersebut tidak hanya mendatangkan kemanfaatan bagi kehidupan manusia, tetapi juga membawa dampak negatif bagi manusia itu sendiri terutama bagi anak yang masih di usia dini. Seperti misalnya budaya mendongeng pada anak sudah menjadi sesuatu yang langka saat ini. Anak-anak sering disuguhi oleh tontonan serial Mahabarata, Hatim, Ganteng- Ganteng Serigala, diam- diam suka dan lainnya.

Dongeng bukanlah  sekadar cerita pengantar tidur untuk anak. Cerita dongen dapat menggiring anak masuk ke fantasi negeri dongeng. Merangsang  imajinasi, terlibat sebagai tokoh di dalamnya lalu menyimpulkan segala makna yang terkandung pada bait-bait ceritanya. Sikap bertanggung jawab, tolong-menolong, bijaksana, dan berbagai bentuk budi pekerti lainnya biasa terkandung dalam cerita dongeng. Budi pekerti inilah yang kemudian di internalisasi dan membentuk karakter anak.

“Dongeng merupakan sarana untuk menanamkan budi pekerti dan pendidikan karakter. Kita ingin semua pihak mendukung gerakan nasional Mendongeng ini. Mulai dari pejabat di daerah hingga di pusat,” kata Ketua Umum DPN Forum Pemuda Pelopor Rita Widyasari saat meluncurkan Gerakan Nasional Indonesia Mendongeng di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Kamis (16/10)”. Budi pekerti itu sendiri secara etimologi terdiri dari 2 unsur kata, yaitu budi dan pekerti. Budi dalam bahasa sangsekerta yang berarti kesadaran, budi, pengerian, pikiran dan kecerdasan. Kata pekerti berarti alkulturasa, penampilan pelaksanaan atau perilaku. Dengan demikian budi pekerti berarti kesadaran yang ditampilkan oleh seseorang dalam berperilaku.

Dongeng adalah cerita bersifat khayal yang dianggap tidak benar benar terjadi, baik oleh penuturnya maupun oleh pendengarnya (Itadz, 2008:73) dongen juga dpat diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar tejadi yang berisi tentang petualangan yang penuhimajinasi dan terkadang tidak masuk akal dengan menampilkan situasi dan paratokoh yang luar biasa/ goib.

Dongeng sebagai salah satu dari sastra anak, berfungsi untuk memberikan hiburan, juga sebagai sarana untuk mewariskan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat pada waktu itu. Dongeng dipandang sebagai sarana untuk mewariskan nilai-nilai, dan untuk masyarakat lama itu dapat dipandang sebagai satu-satunya cara. Sesuai dengan keberadaan misi tersebut, dongeng mengandung ajaran moral. Dongeng sering mengisahkan penderitaan tokoh, namun karena kejujuran dan ketahanujiannya tokoh tersebut mendapat imbalan yang menyenangkan. Sebaliknya tokoh jahat pasti mendapat hukuman.(Nurgiyantoro, 2005:200).

Dalam dongeng terdapat sesuatu yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Sesuatu yang disampaikan itu dapat berupa budi pekerti, amanat, atau pesan yang selalu berkaitan dengan hal yang berkonotasi positif, bermanfaat bagi kehidupan, dan mendidik. Seperti halnya budi pekerti dalam dongeng yang dapat dipahami sebagai sarana untuk mengajarkan dan mendidik melalui cara-cara cerita fiksi. Budi pekerti itu disampaikan lewat sikap dan perilaku konkret sebagaimana yang ditampilkan oleh para tokoh cerita. Tokoh-tokoh cerita tersebut dapat dipandang sebagai model untuk menunjuk dan mendialogkan kehidupan.

Dan melalui sikap dan tingkah laku para tokoh yang ada dalam dongeng itu, budi pekerti ditampilkan oleh pengarang sengaja digunakan sebagai petunjuk mengenai baik buruk dalam menjalani kehidupan, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak boleh dilakukan, seperti tingkah laku dan sopan santun dalam pergaulan.

Dalam perkembangan dongeng ini pula dongen dapat dibuat dalam bahasa indonesia yang baik dan benar agar anak pada usia dini dapat mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak usia dini. Jangan sampai penggunaan bahasa daera dalam dongeng dapat membuat anak kesalahan mengartikan kata. Serta penggunaan bahasa Indonesia pada dongeng dapat membuat anak usia dini membiasakan diri untuk menggunakan bahasa Indonesia.

Dongen yang mampu menyelipkan pesan- pesan budi pekerti untuk anak pada usia dini. Sayangnya dongeng yang di bacakan untuk anak saat ini sangatlah turun drastis dari zaman ke zaman, pada saat ini anak- anak usia dini terlalu disibukan oleh kecangihan tegnologi yang ada yang menyebabkan anak lebih suka untuk melihat televisi dengan sinema sinema yang kurang mendidik dibandingkan membaca buku- buku dongeng yang ada.

Lantas ada baiknya marilah kita membudayakan mendongeng sebagai salah satu jenis karya sastra yang masih ada untuk menciptakan generasi penerus yang  memiliki budi pekerti agar dapat mencipatkan Indonesia yang lebih baik untuk kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

“Dongeng merupakan sarana untuk menanamkan budi pekerti dan pendidikan karakter. Kita ingin semua pihak mendukung gerakan nasional Mendongeng ini. Mulai dari pejabat di daerah hingga di pusat,” kata Ketua Umum DPN Forum Pemuda Pelopor Rita Widyasari saat meluncurkan Gerakan Nasional Indonesia Mendongeng di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Kamis (16/10) ( dalam http://www.beritasatu.com/pendidikan/217907-gerakan-indonesia-mendongeng-diluncurkan.html diakses pada 18 Oktober 2014)

Itadz. 2008. Cerita untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta; Tiara Wacana

Nurgiyantoro,  Burhan.  2005.  Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak.  Yogyakarta:  Gadjah  Mada University Press.

Cinta itu Datangnya Tak Bisa Ditebak

Oleh : Desvi Wahyuni

Cinta itu kalau dipikir-pikir, terkadang aneh ya. Saat ditunggu-tunggu, ia malah enggan muncul. Saat tak ditunggu, tiba-tiba ia datang dengan cara yang ajaib. Cara yang tak pernah kita duga sebelumnya…

Tak terasa, 10 tahun yang lalu, aku dan ayah sedang berjalan-jalan berdua. Tanganku bergelayut manja pada ayah. Aku selalu menikmati waktu bersama beliau. Yang tegas, disiplin, namun penuh kasih sayang. Sesibuk apapun, beliau selalu menyempatkan waktu untuk sekedar menemaniku membeli ice cream atau berjalan ke taman.

Sore itu, usai kami berjalan di taman sambil menikmati ice cream, kami hendak kembali ke mobil dan pulang. Ibu pasti sudah khawatir jika kami belum pulang.

Dari arah kami, sebuah sepeda yang dikendarai oleh anak laki-laki seusiaku meluncur. Di daerah taman tersebut memang seringkali anak-anak bermain bebas. Dan dari arah berlawanan, tiba-tiba muncul sebuah truk yang melaju tak terkendali. Sepertinya remnya blong dan sopirnya panik. BRAKKK!!! truk tersebut berhenti karena menabrak pohon di pinggir jalan.

Tak terduga, si anak kecil pengendara sepeda tadi menjadi korbannya. Ia memang hanya terserempet saja, tetapi kini ia terbaring di jalan aspal dan terdiam. Dengan sigap ayah menengok kanan kiri dan segera berlari menolong si anak tersebut. Karena melihat kondisinya, ayah menelepon polisi untuk mengevakuasi sopir dan truknya. Sementara si anak tersebut dibopong masuk ke mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit. “Seseorang harus bertindak cepat, Ruby, ayo bantu ayah bukakan pintu belakang mobil,” teriak ayahku yang membuatku juga sigap membantunya.

Nama anak itu adalah Brilian. Aku dan ayah mengunjunginya hampir setiap hari. Kamipun berteman dekat, sangat dekat, tanpa pernah kami duga.

Dari yang tak pernah kenal, menjadi akrab. Dari yang hanya bertemu di jalan, menjadi selalu menemani ke manapun aku pergi. Sekalipun berbeda sekolah, tetapi kami rutin bertemu setiap hari. Ia adalah sosok anak yang baik, dan keluarga kamipun menjadi sangat dekat.

***

“Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu,” kata Brilian di sebuah siang. Tak menunggu lama, ia menggandeng tanganku menuju taman di mana pertama kali kami bertemu 10 tahun yang lalu.

Setibanya di sana, ia bercerita panjang lebar kejadian saat kecelakaan itu. Dengan detail dan berkali-kali menyebut ayahku sebagai pahlawan. Aku tahu, ia begitu mengagumi ayah, dan sangat berterima kasih karena ayahku telah menyelamatkan nyawanya. Ia anak yang sopan, dan penyayang.

“Aku sangat beruntung saat itu, diselamatkan oleh ayahmu, dan bertemu dengan dirimu,” ucapnya lagi. “Ah apa sih, itu kan sudah lama,” kataku.

Dadaku berdegup kencang, aku seperti merasa akan ada sebuah kejadian besar. Namun, aku tak tahu apakah itu.

Hingga menjelang senja, kami masih duduk di tepian jalan tersebut. Melihat lalu lalang satu atau dua mobil yang melintas. Dan beberapa orang yang tertawa di seberang jalan, di taman sana, menikmati pemandangan yang sama seperti kami. Tenang, dan mendamaikan.

Suau hari saat matahari hendak tenggelam, tiba-tiba Brilian memintaku berdiri. Iapun berlutut, dan memegang tanganku, “Ruby, maukah kau menikah denganku?” pertanyaan tersebut membuatku terkejut sekaligus haru. Sejak awal pertemuan memang ada sesuatu yang berbeda yang kurasakan di dalam hatiku. Ada sebuah harapan yang semakin lama tumbuh menjadi buah cinta di dalam hatiku. Dan, apakah ini mimpi? Ternyata tidak. Saat kupejamkan mata dan kubuka lagi, Brilian memang masih berlutut menunggu jawabanku. Air mata dan senyumpun bercampur menjadi satu mengisi wajahku. “Ini akan menjadi kabar yang paling membahagiakan bagi keluarga kita Bri, bagi ayah juga tentunya,” kuusap air mata yang menetes di pipiku, dan kujawab ya seribu kali kepada pinangannya itu.

“Kita harus menyampaikan kabar bahagia ini kepada ayah,” kataku bersemangat.

***

12 Tangkai Mawar

Seperti biasanya, di hari Valentine selalu diwarnai dengan bunga mawar dan cokelat. Kali ini seorang pria datang terburu-buru di tengah hujan demi kekasihnya tercinta.

Tahu bahwa ia terlambat dan hujan keburu turun, iapun meminta maaf pada kekasihnya yang terlihat cemberut. Hari itu mereka berencana makan malam berdua, persis seperti yang diinginkan si wanita di film-film yang ditontonnya.

Wanita itu lupa, bahwa romantisme bukan sekedar meniru adegan di film saja, yang terkadang justru tidak nyata. Ia juga lupa, bahwa sebenarnya romantis itu datang dari berbagai cara, seperti yang dibawa oleh kekasihnya.

“Aku membawakanmu bunga ini,” sodor si pria. Ia tetap membisu dan memasang wajah tak suka.

Akhirnya ia menerima 12 tangkai mawar yang masih basah karena tersiram air hujan. Iapun kaget, “kenapa ada satu mawar plastik di sini? kamu nggak rela ngasih aku bunga mawar?” kemarahannya memuncak lagi.

Masih dengan sabar, si pria menjawabnya, “aku memang sengaja membawa 11 mawar segar dan setangkai mawar plastik. Bagiku, aku akan mencintaimu hingga si mawar plastik itu mati…”

Merasa bersalah karena ledakan kemarahannya, si wanita menangis berurai air mata dan memeluk kekasihnya. “Maafkan aku, aku sudah berpikiran jelek padamu…”

11 tangkai bunga mawar segar itu memang cantik seperti di film yang dilihatnya, tetapi setangkai mawar plastik yang dibawa kekasihnya itu melambangkan cinta yang abadi dan tak pernah mati.

Lihat, romantisme itu tak hanya harus dipandang dari satu hal yang pernah dilakukan di film-film saja. 🙂

Mau cerita lainnya, silahkan buka http://www.vemale.com dijamin, masih ada banyak cerita tentang cinta, persahabatan, dan pelajarn hidup lainnya,.. 🙂 🙂 🙂 (y)

Kisah Cinta Secangkir Kopi Asin

Nenekku populer sebagai gadis yang tercantik di kotanya saat itu. Banyak pemuda yang menaruh hati pada nenek dan bersedia memberikan cintanya. Mulai dari yang tampan hingga yang kaya berusaha menarik perhatian nenek, tetapi nenek tak pernah tertarik pada semua pemuda itu.

Hingga suatu saat kakek bertemu nenek di sebuah pesta. Kakekku adalah pemuda yang biasa-biasa saja. Tidak tampan, dan tidak kaya. Hari itu ia mengumpulkan semua keberanian dirinya untuk menyapa nenek. Mengajaknya sekedar menikmati secangkir kopi di sebuah coffee shop di ujung kota. Entah mengapa nenek mengiyakan ajakannya. Berharap segera keluar dari hiruk pikuk pesta.

Di sana mereka duduk berhadapan, dengan wajah cemas kakek berharap bisa berbincang banyak dengan nenek yang saat itu cuek dan tak terlihat tertarik sama sekali. Kata nenek sih, ia menerima ajakan kakek karena telah merasa bosan dengan pesta tersebut. Nenek menggunakan alasan kakek agar ia bisa pergi dan segera pulang. Di tengah perbincangan yang membisu, kakek memanggil pelayan coffee shop tersebut. “Pak, bolehkah aku meminta sedikit garam untuk dimasukkan pada kopi ini?” Semua orang yang ada di sekitar kakek dan nenek keheranan. Untuk apa garam dimasukkan ke dalam secangkir kopi?

Hal tersebut berhasil menarik perhatian nenek. “Untuk apa kau menaruh garam di dalam kopimu?” tanya nenek.

“Oh… ini hanya sebuah kebiasaan lama ayahku. Dulu aku tinggal di sebuah desa dekat pesisir pantai. Di sana kami biasa menambah garam pada kopi agar tetap ingat pada laut, tempat tinggal kami. Dan, hari ini aku rindu kampung halamanku. Aku juga rindu pada orang tuaku yang sudah meninggal. Agar aku tak lupa akan mereka, aku terbiasa menaruh garam di dalam kopiku,” tutur kakek.

Nenekpun merasa tersentuh. Tak pernah ditemui pemuda semanis kakek. Sejak saat itu, mereka selalu pergi berkencan dan bercerita panjang lebar. Merekapun akhirnya menikah. Hidup bahagia, hingga punya banyak anak dan cucu.

Suatu kali, di ulang tahun pernikahan ke-50, kakek akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Di sebuah kotak berisi perhiasan kado ulang tahun pernikahan, ditinggalkannya secarik surat untuk nenek. Karena mata nenek sudah kurang awas untuk membaca, maka ia memintaku untuk membacanya. Kira-kira beginilah isi surat itu…

Gemma yang terkasih,

Aku meminta maaf akan sebuah kesalahan yang sangat besar, yang pernah kulakukan sepanjang hidupku. Aku menyimpan sebuah kebohongan besar selama ini. Ingatkah saat aku mengajakmu ke coffee shop hari itu? Saat itu aku sangat gugup sekali. Saking gugupnya aku ingin meminta tambahan gula untuk kopiku. Namun, entah kenapa yang terucap adalah aku meminta garam.

Aku tak ingin terlihat konyol di depanmu. Dan akhirnya aku mengarang cerita itu. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Kau terlihat begitu cantik dan sempurna, hingga aku tak ingin melepaskanmu.

Tetapi, percayalah sayang… bahwa sepanjang hidupku aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan diriku. Sehingga sekalipun setiap pagi kau buatkan kopi asin itu, semua selalu terasa manis karenamu. Jujur saja, kau mungkin tak akan suka rasanya, karena sebenarnya rasanya sungguh tidak enak.

Gemma, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu.

Air mata nenekpun turun membasahi pipinya. Ia sadar betapa besarnya cinta kakek padanya. Sejak saat itupun ia selalu menambahkan garam di dalam kopinya. Setiap kali ada orang yang bertanya bagaimanakah rasa kopi bila ditambah garam, ia akan menjawabnya “rasanya manis sekali 🙂

 

So sweet,.. 🙂
kalau mau lebih banag lagi, langsung ajjah kunjungi vemale.com.
Dijamin, banyag cerita yang lebih romantis,.. 🙂

Seperti Daun yang Harus Tertiup Angin

Oleh                    : Desvi Wahyuni

Judul Buku          : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Pengarang          : Tere Liye

Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Hlm.       : 264 hlm

Tahun Terbit      : 2011

Sukses dengan novel petamanya yang berjudul Burlian dan di tambah dengan novel islami yang berjudul Hapalan Sholat Delisa, Tere Liye kembali menulis novel yang tidak kalah menggetarkan jiwa yaitu Daun Yang Jatuh Tak Perna Membenci Angin. Penulis yang menjadi dosen di Universitas Indonesia ini, menghadirkan sebuah potret kehidupan seorang gadis yang jatuh cinta kepada orang yang berjasa dalam hidupnya. Dengan perasaan sayang yang sulit di ungkapkan, serta teka- teki yang sulit di pecahkan, Tere Liye memberikan hiburan yang menyenagkan sekaligus mengharukan.

Waktu itu saat Tania dan Adiknya yang bernama Dede sedang mengamen di bis kota, kaki mungil Tania yang tanpa alas tertusuk paku kecil dan mengeluarkan darah. Tania yang masih kecil pun akhirnya menanggis. Sontak hal ini membuat seorang pemuda yang bernama Danar, segera membersihkan dan membalut kaki Tania dengan sapu tangannya. Hubungan mereka tak sampai disini, Danar selalu datang untuk membantu Ibu Tania mencari uang dengan cara memberi modal pada Ibu Tania untuk membuat kue. Dalam waktu singkat, yang semula hanya rumah kardus, mereka bisa mengontrak rumah kecil yang cukup untuk mereka dan Ibu Tania pun dapat menyekolahkan Tania yang sempat putus selama 3 tahun lamanya dan Dede.

Siapa yang tau kelanjutan dari cerita ini ? Tania kecil pun jatuh cinta pada Danar yang memiliki usia empat belas tahun lebih tua darinya. Waktu berjalan cepat, tanpa disadari, Tania kecil tumbuh menjadi perempuan dewasa yang hebat. Dia bersekolah di Singapura tepat setelah Ibunya meninggal. Pada saat yang sama Danar pun menganggap Tania dan Dede seperti adiknya sendiri.

Tania tak pernah tahu bagaimana perasaan Danar terhadapnya. Di satu sisi Tania berpikir bahwa mungkin Danar hanya menganggapnya sebagai adiknya tapi di sisi lain Tania ingin agar Danar menjadi miliknya seorang. Sampai akhirnya, Tania harus mengubur keinginannya tersebut, setelah dia mendengar kabar bahwa Danar akan menikah dengan seorang perempuan bernama Ratna. Seperti daun yang jatuh dihembus oleh angin, Tania pun merelakan Danar menikah dengan ratna. Walaupun begitu, dalam waktu seketika hati Tania  hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.

Waktu pun berlalu. Danar akhirnya menikah dengan Ratna dan Tania pun melanjutkan pendidikannya di Singapura. Saat Tania pulang ke Indonesia untuk mengetahui apa yang ada dibalik semua cerita perjalanan hidupnya, ada suatu hal yang mengejutkan yang tak pernah diketahui oleh Tania sebelumnya. Mau tahu apa? Baca  saja novelnya.

Di dalam novelnya ini, Tere Liye mampu menghadirkan suasa dimana pembaca dapat merasakan atau ikut serta dalam kejadian yang terjadi diantara para tokohnya. Novel ini memiliki gaya bahasa lebih ringan dari Negeri Lima Menara dan lebih berat dari Teenlit remaja yang beredar, sehingga semua kalangan pembaca dapat mengerti jalan ceritanya.

Dengan penokohan yang menarik, alur yang berjalan teratur dan latar tempat yang jelas dan mampu membuat pembaca masuk ke dalam cerita, dapat memberikan pelajaran hidup yang sangat bermakna bagi para pembacanya. Buku ini juga memiliki judul, kertas dan warna sampul yang menarik, sehingga para pembaca tidak mudah bosan dan mengantuk ketika membacanya. Selain itu, buku ini memiliki sedikit kesalahan dalam pencetakan nama pemeran yang semula Tania menjadi Ratna.

Novel ini sangat cocok bagi semua kalangan, baik remaja, orang tua, guru, dll. Oleh sebab itu, ada baiknya kita membeli buku ini, karena buku ini dapat memberikan pelajaran hidup untuk kita semua.